Mengintip Aktivitas Gelondong

Mesin Perusak Alam Mengancam Bumi Sebalo

Mesin Perusak Alam Mengancam Bumi Sebalo Paulus Jasmani Ketua LAKI Kabupaten Bengkayang

SIAGA – BENGKAYANG Pada tahun 2013 jumlah penambang liar (PETI) di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat diperkirakan meningkat tajam dibandingkan tahun 2010. Dalam hitungan 36 bulan saja jumlah mesin perusak tersebut diperkirakan mencapai Ribuan Unit yang terdiri dari berbagai jenis seperti Gelondong, Dompeng dan Kompesor. Untuk jenis Dompeng dan Kompesor terbilang mudah ditemui diareal persawahan atau di sungai-sungai. Sedangkan untuk jenis Gelondong hanya bisa ditemui dipegunungan.

Aktipitas PETI selain merusak alam, dibalik itu para penambang tidak lepas dari penggunaan zat kimia berbahaya yang dinamakan Raksa (Mercury-Red). Karena Raksa sebagai bahan pemisah antara emas dengan batu, pasir, tanah dan lumpur. Untuk membuktikan hal itu tentu saja pemerintah atau pihak terkait perlu melakukan pengkajian, bahkan penelitian mengukur sejauh mana kandungan-kandungan bahaya mercury terhadap keselamatan manusia dan alam sekitar, terlebih lagi dampak dari limbah berupa Lumpur dan Puyak dibuang mengalir langsung mengikuti arus Sungai.

Dampak tersebut tentu berbahaya bagi ekosistem kehidupan di Sungai, terutama terhadap masyarakat yang menggunakan air untuk kelangsungan hidup. Untuk jangka panjang itu bisa merusak lingkungan sekitar karena senyawa yang dihasilkan itu tidak mudah dengan cepat dinetralisir oleh lingkungan.

Disisi lain hal tersebut (PETI-Red) menjanjikan taraf hidup yang lebih baik, namun sangat perlu diperhatikan juga mengenai keseimbangan lingkungan sekitar. Jangan sampai apa yang kita lakukan itu justru membahayakan bagi orang lain. Demikian pernyataan Paulus Jasmani, Ketua Lembaga Anti Korupsi Pejuang 45 (LAKI) Kabupaten Bengkayang saat ditemui, Senin (30/09/2013).

Pria yang pernah menjabat selaku Kepala Desa Bengkayang ini menyampaikan, maraknya aktifitas PETI mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat yang bermukim di sepanjang Sungai. Air sungai yang semakin keruh dan diduga tercemar Raksa membuat masyarakat tidak lagi menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.

Ditempat terpisah disampaikan Agustinus Baon, warga Timonong Desa Bumi Emas, Kecamatan Bengkayang mengeluhkan aktipitas PETI yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Selain mendengar suara bising aktipitas para penambang juga membuat anak Sungai sebagai wadah air bersih sudah ikut tercemar.

“Sekarang anak Sungai tempat mengambil air bersih juga sudah berlumpur, kalau minum Air Sungai Sebalo itu tidak mungkin, itu namanya bunuh diri,” kata Baon kesal.

Selaku masyarakat, Baon berharap pemerintah memberikan solusi kepada para penambang yang dikatakan Illegal itu. Jangan menjadikan alasan perut sebagai upaya toleransi dalam hal tindakan yang merugikan orang lain.JP

Jika anda menikmati berita ini, Dapatkan update email

Editor: siaga

Get short URL
http://siaga.co/r/10199
Berita Terkait

Leave a Reply