Prediksi IHSG 9 Februari 2026 Berpotensi Bergejolak

Siaga.coIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berada dalam bayang-bayang tekanan pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin, 9 Februari 2026. Sentimen negatif yang berasal dari revisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia menjadi pemicu utama volatilitas pasar modal domestik.

Kondisi ini merupakan kelanjutan dari performa buruk pada perdagangan Jumat (6/2/2026), di mana IHSG ditutup merosot tajam 2,08% menuju level 7.935,26. Aksi jual masif terjadi setelah lembaga pemeringkat internasional, Moody’s, secara resmi menurunkan outlook peringkat utang pemerintah Indonesia menjadi negatif, meski peringkat utang itu sendiri masih tertahan pada level Baa2 atau investment grade.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengonfirmasi bahwa sentimen tersebut masih akan menjadi beban berat bagi pergerakan bursa saham. Kendati demikian, terdapat perbedaan pandangan di antara lembaga pemeringkat global yang memberikan sedikit ruang napas bagi pasar.

“Sentimen negatif berasal dari penurunan outlook oleh Moody’s. Sementara itu, S&P Global Ratings menyatakan volatilitas pasar saham belum mengubah pandangannya terhadap peringkat Indonesia yang masih ber-outlook stabil,” ujar Alrich secara resmi pada Jumat (6/2/2026).

Meskipun S&P masih mempertahankan pandangan stabil, Alrich memberikan catatan penting mengenai peringatan lembaga tersebut terkait risiko dari sisi fiskal. Melemahnya performa fiskal nasional dikhawatirkan dapat memperberat tekanan terhadap peringkat kredit Indonesia di masa depan apabila tidak segera dibarengi dengan perbaikan fundamental di sektor lainnya.

Gejolak di pasar modal ini juga merembet ke sektor mata uang, di mana nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan. Pada penutupan pasar spot Jumat (6/2), mata uang Garuda tersebut harus terkoreksi ke level Rp16.876 per dolar AS, mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional.

Indikator makroekonomi lainnya menunjukkan bahwa cadangan devisa Indonesia pada Januari 2026 berada di angka US$154,6 miliar. Angka tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan posisi Desember 2025 yang sempat menyentuh level tertinggi dalam sembilan bulan terakhir sebesar US$156,5 miliar.

Bank Indonesia menyatakan bahwa penyusutan cadangan devisa tersebut dipicu oleh dua faktor utama, yakni kewajiban pembayaran utang valuta asing pemerintah serta langkah intervensi untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Di sisi lain, sektor properti juga menunjukkan perlambatan dengan indeks harga properti residensial yang hanya tumbuh 0,83% secara tahunan (YoY) pada kuartal IV 2025, melandai dari 0,84% YoY pada kuartal III 2025.

Sepanjang pekan ini, investor akan memfokuskan perhatian pada sejumlah rilis data domestik krusial untuk mengukur daya beli masyarakat. Data-data tersebut meliputi indeks kepercayaan konsumen (consumer confidence), angka penjualan ritel, serta realisasi penjualan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat.

Secara teknikal, posisi IHSG saat ini berada dalam fase kritis karena telah ditutup di bawah garis Moving Average 5 (MA5), namun masih mencoba bertahan di atas MA200. Alrich menekankan bahwa level 8.000 menjadi titik pivot yang sangat menentukan arah tren selanjutnya.

“IHSG masih berpotensi menguji level MA200 selama ditutup di bawah level 8.000. Jika IHSG menembus ke bawah MA200 di sekitar 7.824, maka ada peluang pelemahan lanjutan menuju area support 7.700–7.800,” jelas Alrich mengenai proyeksi teknikal bursa.

Untuk menghadapi volatilitas perdagangan Senin (9/2), pelaku pasar disarankan untuk tetap selektif dan memprioritaskan saham-saham dengan fundamental likuid serta karakter defensif. Beberapa emiten yang direkomendasikan untuk dicermati antara lain PANI, TLKM, PNLF, CMRY, INTP, dan ERAL.

Tinggalkan komentar