Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi adanya aktivitas tektonik yang mengguncang wilayah perairan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Peristiwa alam tersebut tercatat terjadi pada Selasa, 10 Februari 2026, tepat pukul 12:04:32 WIB.
Gempa bumi ini memiliki kekuatan Magnitudo 3,5. Hingga laporan ini diterbitkan, BMKG terus melakukan pemantauan terhadap potensi aktivitas seismik susulan di zona tersebut.
Titik Koordinat dan Lokasi Episentrum
Secara teknis, hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa episentrum gempa terletak pada koordinat 9,27 Lintang Selatan (LS) dan 110,26 Bujur Timur (BT). Titik ini berada di wilayah samudera, dengan jarak sekitar 147 kilometer ke arah Barat Daya Gunungkidul, DIY.
Lokasi tersebut menempatkan pusat getaran di area lepas pantai yang berbatasan dengan zona subduksi lempeng di selatan Pulau Jawa. Kendati demikian, kekuatan gempa yang berada di skala menengah-kecil ini biasanya tidak memicu gelombang tsunami.
Analisis Kedalaman dan Dampak Getaran
Data seismograf mencatat bahwa pusat gempa atau hiposenter berada pada kedalaman 36 kilometer di bawah permukaan laut. Dalam kategori gempa bumi, kedalaman ini tergolong sebagai gempa dangkal yang terjadi di kerak bumi atau pada zona kontak antar lempeng.
Meski terjadi di kedalaman 36 kilometer, kecil kemungkinan getaran ini dirasakan secara luas oleh masyarakat di daratan Gunungkidul. BMKG belum menerima laporan adanya kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat peristiwa tektonik siang ini.
Kecepatan Data dan Protokol BMKG
Pihak BMKG memberikan catatan khusus mengenai sifat data yang dirilis dalam waktu singkat setelah kejadian. Prioritas utama lembaga ini adalah kecepatan penyampaian informasi kepada publik agar masyarakat tetap waspada.
Namun, karena pengolahan data dilakukan dalam hitungan menit, parameter gempa masih memiliki kemungkinan untuk diperbarui. Pihak BMKG secara resmi menyatakan, “Disclaimer:Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data.”
Masyarakat dihimbau untuk tetap merujuk pada aplikasi resmi Info BMKG atau akun media sosial terverifikasi milik BMKG untuk mendapatkan pembaruan data yang lebih stabil dan akurat.
